<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>TWEET USTADZ: Kerjasama dan Kebersamaan Dalam Menjalani Hidup</title><description>Sebuah perumpamaan tentang kehidupan yang dituturkan oleh Gus Mus.</description><link>https://celebrity.okezone.com/read/2017/06/24/33/1724177/tweet-ustadz-kerjasama-dan-kebersamaan-dalam-menjalani-hidup</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://celebrity.okezone.com/read/2017/06/24/33/1724177/tweet-ustadz-kerjasama-dan-kebersamaan-dalam-menjalani-hidup"/><item><title>TWEET USTADZ: Kerjasama dan Kebersamaan Dalam Menjalani Hidup</title><link>https://celebrity.okezone.com/read/2017/06/24/33/1724177/tweet-ustadz-kerjasama-dan-kebersamaan-dalam-menjalani-hidup</link><guid isPermaLink="false">https://celebrity.okezone.com/read/2017/06/24/33/1724177/tweet-ustadz-kerjasama-dan-kebersamaan-dalam-menjalani-hidup</guid><pubDate>Sabtu 24 Juni 2017 17:42 WIB</pubDate><dc:creator>Miftahul Khoiriyah</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/06/24/33/1724177/tweet-ustadz-kerjasama-dan-kebersamaan-dalam-menjalani-hidup-wMokUz2eHB.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Gus Mus dan Quraish Shihab (Foto: NU Online)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/06/24/33/1724177/tweet-ustadz-kerjasama-dan-kebersamaan-dalam-menjalani-hidup-wMokUz2eHB.jpg</image><title>Gus Mus dan Quraish Shihab (Foto: NU Online)</title></images><description>JAKARTA - Sebuah perumpamaan tentang kehidupan yang dituturkan oleh Gus Mus. Seorang penulis yang memiliki latar belakang agama berbeda dari kyai asal Jawa Tengah tersebut menjelaskan apa yang ia lihat dari tontonan media sosial namun real telah terjadi.

Gus Mus mengumpamakan kehidupan seperti permainan bola. Jangan terlalu serius namun tegas dalam setiap tindakan untuk masa depan, duniawi dan ukhrawi.

&amp;lt;blockquote class=&quot;twitter-tweet&quot; data-lang=&quot;en&quot;&amp;gt;&amp;lt;p lang=&quot;in&quot; dir=&quot;ltr&quot;&amp;gt;Keislaman Quraish dan Gus Mus Menerangi Kekatolikanku &amp;lt;a href=&quot;https://t.co/HKXrC6jQz5&quot;&amp;gt;https://t.co/HKXrC6jQz5&amp;lt;/a&amp;gt; &amp;lt;a href=&quot;https://t.co/CKSRCpB3vE&quot;&amp;gt;pic.twitter.com/CKSRCpB3vE&amp;lt;/a&amp;gt;&amp;lt;/p&amp;gt;&amp;amp;mdash; NU Online (@nu_online) &amp;lt;a href=&quot;https://twitter.com/nu_online/status/878393482280173568&quot;&amp;gt;June 23, 2017&amp;lt;/a&amp;gt;&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&amp;lt;script async src=&quot;//platform.twitter.com/widgets.js&quot; charset=&quot;utf-8&quot;&amp;gt;&amp;lt;/script&amp;gt;

&quot;Gus Mus memaknai hidup seperti permainan sepak bola. Satu bola dikejar oleh sekian banyak orang. Sudah ditangkap dilepas lagi. Keluar dimasukkan lagi. Hidup ini sebuah permainan, jadi jangan terlalu serius,&quot; canda Gus Mus dalam NU Online.

Hal yang sama tentang perumpamaan hidup datang dari penjelasan Qurais Shihab. Ayah kandung Najwa Shihab tersebut merasa bahwa permainan bola butuh kerjasama dan kebersamaan agar tujuan utamanya terwujud, kemenangan.

&quot;Memaknai permainan sepak bola sebagai kerjasama, kebersamaan, meski ada yang kalah namun pada akhirnya bisa menerima kekalahan tersebut dan bisa salaman. Kemenangan ada kerjasama,&quot; tutur Qurais Shihab.

Indahnya jika semua insan berfikiran demikian. Tak hanya dari saudara seiman namun contoh hidup dan kedamaian dunia sejatinya bisa didapat dari siapa saja dan dimana saja.</description><content:encoded>JAKARTA - Sebuah perumpamaan tentang kehidupan yang dituturkan oleh Gus Mus. Seorang penulis yang memiliki latar belakang agama berbeda dari kyai asal Jawa Tengah tersebut menjelaskan apa yang ia lihat dari tontonan media sosial namun real telah terjadi.

Gus Mus mengumpamakan kehidupan seperti permainan bola. Jangan terlalu serius namun tegas dalam setiap tindakan untuk masa depan, duniawi dan ukhrawi.

&amp;lt;blockquote class=&quot;twitter-tweet&quot; data-lang=&quot;en&quot;&amp;gt;&amp;lt;p lang=&quot;in&quot; dir=&quot;ltr&quot;&amp;gt;Keislaman Quraish dan Gus Mus Menerangi Kekatolikanku &amp;lt;a href=&quot;https://t.co/HKXrC6jQz5&quot;&amp;gt;https://t.co/HKXrC6jQz5&amp;lt;/a&amp;gt; &amp;lt;a href=&quot;https://t.co/CKSRCpB3vE&quot;&amp;gt;pic.twitter.com/CKSRCpB3vE&amp;lt;/a&amp;gt;&amp;lt;/p&amp;gt;&amp;amp;mdash; NU Online (@nu_online) &amp;lt;a href=&quot;https://twitter.com/nu_online/status/878393482280173568&quot;&amp;gt;June 23, 2017&amp;lt;/a&amp;gt;&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&amp;lt;script async src=&quot;//platform.twitter.com/widgets.js&quot; charset=&quot;utf-8&quot;&amp;gt;&amp;lt;/script&amp;gt;

&quot;Gus Mus memaknai hidup seperti permainan sepak bola. Satu bola dikejar oleh sekian banyak orang. Sudah ditangkap dilepas lagi. Keluar dimasukkan lagi. Hidup ini sebuah permainan, jadi jangan terlalu serius,&quot; canda Gus Mus dalam NU Online.

Hal yang sama tentang perumpamaan hidup datang dari penjelasan Qurais Shihab. Ayah kandung Najwa Shihab tersebut merasa bahwa permainan bola butuh kerjasama dan kebersamaan agar tujuan utamanya terwujud, kemenangan.

&quot;Memaknai permainan sepak bola sebagai kerjasama, kebersamaan, meski ada yang kalah namun pada akhirnya bisa menerima kekalahan tersebut dan bisa salaman. Kemenangan ada kerjasama,&quot; tutur Qurais Shihab.

Indahnya jika semua insan berfikiran demikian. Tak hanya dari saudara seiman namun contoh hidup dan kedamaian dunia sejatinya bisa didapat dari siapa saja dan dimana saja.</content:encoded></item></channel></rss>
