<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Nia Dinata Nilai Penulis Naskah Indonesia Berada di Titik Lemah</title><description>Film Indonesia telah berada di titik puncak selama satu tahun belakangan ini</description><link>https://celebrity.okezone.com/read/2017/03/24/33/1650891/nia-dinata-nilai-penulis-naskah-indonesia-berada-di-titik-lemah</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://celebrity.okezone.com/read/2017/03/24/33/1650891/nia-dinata-nilai-penulis-naskah-indonesia-berada-di-titik-lemah"/><item><title>Nia Dinata Nilai Penulis Naskah Indonesia Berada di Titik Lemah</title><link>https://celebrity.okezone.com/read/2017/03/24/33/1650891/nia-dinata-nilai-penulis-naskah-indonesia-berada-di-titik-lemah</link><guid isPermaLink="false">https://celebrity.okezone.com/read/2017/03/24/33/1650891/nia-dinata-nilai-penulis-naskah-indonesia-berada-di-titik-lemah</guid><pubDate>Jum'at 24 Maret 2017 21:01 WIB</pubDate><dc:creator>Rima Wahyuningrum</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/03/24/33/1650891/nia-dinata-nilai-penulis-naskah-indonesia-berada-di-titik-lemah-NpSS5uR3x1.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Nia Dinata (Foto: Rima/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/03/24/33/1650891/nia-dinata-nilai-penulis-naskah-indonesia-berada-di-titik-lemah-NpSS5uR3x1.jpg</image><title>Nia Dinata (Foto: Rima/Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Film Indonesia telah berada di titik puncak selama satu tahun belakangan ini seperti yang terlihat dengan banyaknya jumlah penonton di sejumlah karya box office. Namun, di balik kesuksesan tersebut rupanya ada celah minus dibaliknya.

Sutradara Nia Dinata memiliki penilaian sendiri dari kekurangan di balik kesuksesan film Indonesia saat ini. Baginya, jumlah penulis naskah hebat sedang menurun.

&quot;Kalau dibandingkan dengan teknis produksi yang sama maju, enggak sebanding dengan jumlah penulisnya. Yang penting dari sebuah film itu ya cerita,&quot; ujar Nia di The Hermitage Hotel, Menteng, Jakarta Pusat pada Jumat (24/3/2017).

Wanita berdarah Sunda ini memberikan pernyataan mengejutkan. Ia menilai bahwa penulis naskah di Indonesia sedang melemah.

&quot;Justru penulisan naskah di perfilman naskah di Indonesia jadi titik yang paling lemah,&quot; pungkasnya.

Hal itu ia rasakan sendiri saat bertemu dengan mentor penulisan naskah dari luar negeri. Mereka menilai ide bagus dari penulis dalam negeri tapi dengan imajinasi yang mengecewakan.

&quot;Kita lihat produksi film Indonesia kita panggil mentor dari hollywood dann Eropa mereka kasih workshop, keluhan mentor adalah aduh orang Indonesia idenya bagus tapi terbuai dengan imajinasi sinetron mellow-drama padahal bisa lebih imajinatif dan realistis,&quot; jelasnya.

Nia menambahkan bahwa kekurangan tersebut dinilai dari minimnya media tonton selain televisi. Ia menambahkan pentingnya cerita ketimbang visual yang indah dari sebuah film.

&quot;Kadang anggap remeh cerita yang penting visualnya keren. Enggak juga. Orang bisa duduk nonton kalau emang ceritanya menarik dan strukturnya unik,&quot; tutupnya.

</description><content:encoded>JAKARTA - Film Indonesia telah berada di titik puncak selama satu tahun belakangan ini seperti yang terlihat dengan banyaknya jumlah penonton di sejumlah karya box office. Namun, di balik kesuksesan tersebut rupanya ada celah minus dibaliknya.

Sutradara Nia Dinata memiliki penilaian sendiri dari kekurangan di balik kesuksesan film Indonesia saat ini. Baginya, jumlah penulis naskah hebat sedang menurun.

&quot;Kalau dibandingkan dengan teknis produksi yang sama maju, enggak sebanding dengan jumlah penulisnya. Yang penting dari sebuah film itu ya cerita,&quot; ujar Nia di The Hermitage Hotel, Menteng, Jakarta Pusat pada Jumat (24/3/2017).

Wanita berdarah Sunda ini memberikan pernyataan mengejutkan. Ia menilai bahwa penulis naskah di Indonesia sedang melemah.

&quot;Justru penulisan naskah di perfilman naskah di Indonesia jadi titik yang paling lemah,&quot; pungkasnya.

Hal itu ia rasakan sendiri saat bertemu dengan mentor penulisan naskah dari luar negeri. Mereka menilai ide bagus dari penulis dalam negeri tapi dengan imajinasi yang mengecewakan.

&quot;Kita lihat produksi film Indonesia kita panggil mentor dari hollywood dann Eropa mereka kasih workshop, keluhan mentor adalah aduh orang Indonesia idenya bagus tapi terbuai dengan imajinasi sinetron mellow-drama padahal bisa lebih imajinatif dan realistis,&quot; jelasnya.

Nia menambahkan bahwa kekurangan tersebut dinilai dari minimnya media tonton selain televisi. Ia menambahkan pentingnya cerita ketimbang visual yang indah dari sebuah film.

&quot;Kadang anggap remeh cerita yang penting visualnya keren. Enggak juga. Orang bisa duduk nonton kalau emang ceritanya menarik dan strukturnya unik,&quot; tutupnya.

</content:encoded></item></channel></rss>
