<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Perjalanan Musik Minang Modern Dirangkum dalam Sebuah Buku</title><description>Musik Minang dalam perjalanannya sudah dikenal oleh masyarakat luas.</description><link>https://celebrity.okezone.com/read/2017/01/18/205/1594715/perjalanan-musik-minang-modern-dirangkum-dalam-sebuah-buku</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://celebrity.okezone.com/read/2017/01/18/205/1594715/perjalanan-musik-minang-modern-dirangkum-dalam-sebuah-buku"/><item><title>Perjalanan Musik Minang Modern Dirangkum dalam Sebuah Buku</title><link>https://celebrity.okezone.com/read/2017/01/18/205/1594715/perjalanan-musik-minang-modern-dirangkum-dalam-sebuah-buku</link><guid isPermaLink="false">https://celebrity.okezone.com/read/2017/01/18/205/1594715/perjalanan-musik-minang-modern-dirangkum-dalam-sebuah-buku</guid><pubDate>Rabu 18 Januari 2017 15:23 WIB</pubDate><dc:creator>Antara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/01/18/205/1594715/perjalanan-musik-minang-modern-dirangkum-dalam-sebuah-buku-THCA8ypBP3.jpg" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/01/18/205/1594715/perjalanan-musik-minang-modern-dirangkum-dalam-sebuah-buku-THCA8ypBP3.jpg</image><title></title></images><description>PADANG - Buku tentang perjalanan musik Minang modern yang ditulis oleh Agusli Taher diluncurkan di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas (Unand) Padang, Sumatera Barat, Rabu (18/1/2017).
Penulis buku yang merupakan seorang praktisi musik Minang, Agusli Taher mengatakan dalam perjalanannya musik Minang sudah dikenal oleh masyarakat luas. &quot;Pada era 1960-an melalui grup musik Gumarang musik Minang sudah dibawa melanglang buana keliling Indonesia,&quot; katanya.
Ia menjelaskan semenjak era 60-an itu dengan produktifitas yang cukup tinggi, Sumbar kemudian menjadi Industri musik terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta.
Perkembangan yang terjadi itu dilakukan oleh pelaku-pelaku seni yang tidak melalui pembinaan yang intens, akan tetapi mereka berkembang dengan sendirinya.
&quot;Salah satu keunikan pelaku seni di Sumbar itu adalah tanpa pembinaan pun mereka sanggup berkarya dengan baik, apalagi kalau dibina secara berkelanjutan,&quot; kata dia.
Ia mengharapkan para pemangku kebijakan dapat memperhatikan keberadan pelaku dan industri musik Minang yang sudah sejak lama berkembang di Sumbar.
&quot;Kita tentu mengharapkan agar pemerintah bisa ikut memperhatikan pelaku musik Minang, sebab secara tidak langsung mereka ikut membangun perekenomian dan kebudayaan di Sumbar,&quot; terangnya.
Peneliti musik dari Universitas Leiden, Suryadi mengatakan Sumbar memang benar pernah menjadi tempat berkembangnya industri musik terbesar kedua setelah Jakarta. &quot;Buku ini menarik, karena selain bisa menjadi referensi bagi para akademisi, buku ini ditulis langsung oleh seorang praktisi,&quot; katanya.</description><content:encoded>PADANG - Buku tentang perjalanan musik Minang modern yang ditulis oleh Agusli Taher diluncurkan di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas (Unand) Padang, Sumatera Barat, Rabu (18/1/2017).
Penulis buku yang merupakan seorang praktisi musik Minang, Agusli Taher mengatakan dalam perjalanannya musik Minang sudah dikenal oleh masyarakat luas. &quot;Pada era 1960-an melalui grup musik Gumarang musik Minang sudah dibawa melanglang buana keliling Indonesia,&quot; katanya.
Ia menjelaskan semenjak era 60-an itu dengan produktifitas yang cukup tinggi, Sumbar kemudian menjadi Industri musik terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta.
Perkembangan yang terjadi itu dilakukan oleh pelaku-pelaku seni yang tidak melalui pembinaan yang intens, akan tetapi mereka berkembang dengan sendirinya.
&quot;Salah satu keunikan pelaku seni di Sumbar itu adalah tanpa pembinaan pun mereka sanggup berkarya dengan baik, apalagi kalau dibina secara berkelanjutan,&quot; kata dia.
Ia mengharapkan para pemangku kebijakan dapat memperhatikan keberadan pelaku dan industri musik Minang yang sudah sejak lama berkembang di Sumbar.
&quot;Kita tentu mengharapkan agar pemerintah bisa ikut memperhatikan pelaku musik Minang, sebab secara tidak langsung mereka ikut membangun perekenomian dan kebudayaan di Sumbar,&quot; terangnya.
Peneliti musik dari Universitas Leiden, Suryadi mengatakan Sumbar memang benar pernah menjadi tempat berkembangnya industri musik terbesar kedua setelah Jakarta. &quot;Buku ini menarik, karena selain bisa menjadi referensi bagi para akademisi, buku ini ditulis langsung oleh seorang praktisi,&quot; katanya.</content:encoded></item></channel></rss>
