<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>FPI Masih Hargai Solmed karena Pernah Serang Kantor Playboy</title><description>Meski gemar meminta tarif dakwah, ternyata pihak Front  Pembela Islam   (FPI) masih menghargai ustadz Solmed. Maklum, kala masih  berkecimpung di   FPI, Solmed merupakan dalang penghancuran majalah Playboy edisi  Indonesia yang dianggap menyebarkan pornografi ketika pertama terbit.</description><link>https://celebrity.okezone.com/read/2013/08/22/33/853980/fpi-masih-hargai-solmed-karena-pernah-serang-kantor-playboy</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://celebrity.okezone.com/read/2013/08/22/33/853980/fpi-masih-hargai-solmed-karena-pernah-serang-kantor-playboy"/><item><title>FPI Masih Hargai Solmed karena Pernah Serang Kantor Playboy</title><link>https://celebrity.okezone.com/read/2013/08/22/33/853980/fpi-masih-hargai-solmed-karena-pernah-serang-kantor-playboy</link><guid isPermaLink="false">https://celebrity.okezone.com/read/2013/08/22/33/853980/fpi-masih-hargai-solmed-karena-pernah-serang-kantor-playboy</guid><pubDate>Kamis 22 Agustus 2013 17:16 WIB</pubDate><dc:creator>Egie Gusman</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2013/08/22/33/853980/tmC95anknc.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Solmed (Foto: ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2013/08/22/33/853980/tmC95anknc.jpg</image><title>Solmed (Foto: ist)</title></images><description>JAKARTA - Meski gemar meminta tarif dakwah, ternyata pihak Front  Pembela Islam   (FPI) masih menghargai ustadz Solmed. Maklum, kala masih  berkecimpung di   FPI, Solmed merupakan dalang penghancuran majalah Playboy edisi  Indonesia yang dianggap menyebarkan pornografi ketika pertama terbit.&quot;Ya  memang dia (Solmed) benar yang memimpin aksi tersebut. Makanya, di  balik sifatnya yang enggak bagus, dia memang memiliki peran yang baik  dalam memerangi pornografi,&quot; kata Sekretaris DPD FPI DKI Jakarta, Ustadz  H. Novel Bamu'min saat diwawancara melalui telefon, Kamis (22/8/2013).Karena masih menghargai perjuangan, FPI tidak langsung memecat suami April Jasmine kala itu. Namun, jabatan Solmed dipindahkan yang sebelumnya menjadi Wakil Sekjen, menjadi Ketua Bidang Seni Budaya. &quot;Kita  sih menghargai perjuangannya saja yah. Pak ustadz itu selalu melakukan  kesalahan dengan tarif tingginya. Dia itu jabatannya tinggi di DPP.  Sebagai bentuk menghargai perjuangan, dan jasa-jasanya, makanya dia cuma  dikasih peringatan oleh DPP, tidak langsung dipecat. Tapi dari Dewan  Tandfidz, dia dipindahkan menjadi Ketua Bidang Seni&amp;nbsp; Budaya, dikucilkan  lah, karena memang kan enggak ada posisi itu,&quot; jelas ustadz Novel.Ustadz  Novel sendiri mengaku sudah mengenal Solmed sejak FPI terbentuk pada  1998. Bahkan, jabatan keduanya bisa dikatakan sama di ormas Islam pimpinan Habib Rizieq tersebut.&quot;Saya  sebelum gabung di FPI kan ngaji sejak 1993. FPI kan berdiri 1998, di  situ Solmed mulai gabung. Sebenarnya sama, cuma kita beda posisi saja,  dia di DPP, saya di DPD DKI sebagai sekretaris,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Meski gemar meminta tarif dakwah, ternyata pihak Front  Pembela Islam   (FPI) masih menghargai ustadz Solmed. Maklum, kala masih  berkecimpung di   FPI, Solmed merupakan dalang penghancuran majalah Playboy edisi  Indonesia yang dianggap menyebarkan pornografi ketika pertama terbit.&quot;Ya  memang dia (Solmed) benar yang memimpin aksi tersebut. Makanya, di  balik sifatnya yang enggak bagus, dia memang memiliki peran yang baik  dalam memerangi pornografi,&quot; kata Sekretaris DPD FPI DKI Jakarta, Ustadz  H. Novel Bamu'min saat diwawancara melalui telefon, Kamis (22/8/2013).Karena masih menghargai perjuangan, FPI tidak langsung memecat suami April Jasmine kala itu. Namun, jabatan Solmed dipindahkan yang sebelumnya menjadi Wakil Sekjen, menjadi Ketua Bidang Seni Budaya. &quot;Kita  sih menghargai perjuangannya saja yah. Pak ustadz itu selalu melakukan  kesalahan dengan tarif tingginya. Dia itu jabatannya tinggi di DPP.  Sebagai bentuk menghargai perjuangan, dan jasa-jasanya, makanya dia cuma  dikasih peringatan oleh DPP, tidak langsung dipecat. Tapi dari Dewan  Tandfidz, dia dipindahkan menjadi Ketua Bidang Seni&amp;nbsp; Budaya, dikucilkan  lah, karena memang kan enggak ada posisi itu,&quot; jelas ustadz Novel.Ustadz  Novel sendiri mengaku sudah mengenal Solmed sejak FPI terbentuk pada  1998. Bahkan, jabatan keduanya bisa dikatakan sama di ormas Islam pimpinan Habib Rizieq tersebut.&quot;Saya  sebelum gabung di FPI kan ngaji sejak 1993. FPI kan berdiri 1998, di  situ Solmed mulai gabung. Sebenarnya sama, cuma kita beda posisi saja,  dia di DPP, saya di DPD DKI sebagai sekretaris,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
