JAKARTA - Superman Is Dead (S.I.D) menandai kelahiran kembali mereka dengan merilis album ke-7. Sebuah album penuh perjuangan. Boby Kool (gitar, vokal), Eka Rock (bass), dan Jerinx (drum), mengaku rasanya sudah 100 tahun tidak masuk ke studio untuk rekaman album.
Padahal, album terakhir mereka, Black Market Love dirilis tahun 2006, alias 3 tahun lalu. "Itu karena kami melalui banyak hal, sebelum akhirnya bisa mulai untuk rekaman album ini. Bahkan, kami merasa, di album ini, S.I.D terlahir kembali. Kami menemukan kembali alasan mengapa kami bermusik," kata Boby saat launching album Angel and The Outsider di Hard Rock Cafe Jakarta akhir pekan lalu.
Anak-anak S.I.D memang harus berjuang keras untuk membuat album ini. S.I.D hanya sedikit merinci apa persoalan itu.
Secara garis besar, persoalan itu berkaitan dengan apa yang sering mereka sebut attitude (sikap) yang berbeda antara manajemen dan sikap mereka sebagai musisi. Persoalan yang hampir mengisap semua energi kreatif mereka dalam 3 tahun terakhir.
"Mantan manajer kami melakukan banyak hal yang bertentangan dengan kami. Apa yang dilakukannya membuat citra kami sebagai band jadi terpuruk. Mulai S.I.D adalah band yang punya permintaan aneh-aneh kalau mau pentas, persoalan finansial yang sampai membuat kami hampir bangkrut, sampai dengan hal-hal yang bertentangan dengan kami, seperti saling menghormati dan menghargai perbedaan," kata Jerinx.
Jerinx bahkan sempat berniat untuk berhenti bermain musik karena kehilangan seseorang yang sangat dicintai. Seseorang yang membuat dia seperti kehilangan akal sehat. S.I.D yang mulai dikenal luas berkat album Kuta Rock City (2003) ini pun kebingungan dan hampir menyerah.
Untunglah, pada masa paling kelam dalam perjalanan karier mereka, S.I.D masih punya malaikat pelindung (guardian angel). Malaikat pelindung itu adalah nilai-nilai hidup yang mereka dapat dari masa kelam. S.I.D menyebutkan sebagai persahabatan, kesetiaan, harapan alias energi positif hidup.
Sebuah konsepsi yang mereka dapatkan karena mereka begitu meyakini sikap yang jadi pilihan mereka, yaitu menghargai perbedaan, merayakan keberagaman, dan saling menghormati. Selain makna hidup, malaikat pelindung S.I.D juga datang dari fans setia mereka, Outsider.
Para fans inilah yang selalu ada untuk mendukung mereka, dalam kondisi apa pun. Tak ayal kiranya jika album ini dinamai Angel and The Outsider. "Setelah melalui apa yang terjadi, kami merasa sangat percaya diri. Barangkali 1.000 kali lebih percaya diri dari sebelumnya. Ini hal yang sangat kami rasakan dari kelahiran kembali S.I.D," kata Eka.
Di album ke-7 ini, musik S.I.D ini terdengar lebih matang dan bijak tanpa meninggalkan terlalu jauh musik punk rock yang mereka mainkan. Kesan itu datang dari pilihan sound yang lebih tebal. Musik mereka pun tidak selalu digeber dalam tempo yang tinggi. Mereka menyisipkan dengan lagu yang bertempo sedang.
"Ini untuk kepentingan live juga. Kami merasa tidak punya cukup stok lagu yang agak soft. Rasanya cepat bosan juga kalau kita konser terus digeber dengan musik yang keras," tutur Jerinx lalu tersenyum.
S.I.D pun banyak berkolaborasi. Di single andalan, Kuat Kita Bersinar, mereka menggandeng musisi jazz Erik Sondy untuk mengisi part dentingan piano yang manis. Atau dengan Shaggy Dog dalam Jika Kami Bersama yang akan membuat serasa dalam sebuah pesta. Agak sulit untuk membalut rasa kehilangan dengan gagah.
Namun, itu berhasil dibuat dalam Night Of The Lonely di mana suara violin membuat kuduk berdiri. Atau dalam Menuju Temaran dan Memories of Rose di mana brass section dan permainan gitar Flamenco membuat sulit untuk tidak merasa terdampar sendiri di gurun pasir.
Dalam Pulang dan Luka Indonesia, mereka memadukannya dengan suling bambu Bali dan Ceng Ceng. Perpaduan unik yang memberikan kita tawaran segar. Album Angel and The Outsider memang jadi penanda kelahiran kembali S.I.D. Mereka pun makin meyakini, musik adalah notasi suara atas sikap yang diyakini dan dijalankan.
(jri)