The Running Man Tahun 1987 Ramalkan Amerika saat Ini

Agregasi BBC Indonesia | Rabu, 11 Januari 2017 - 20:27 wib
The Running Man (Foto: YouTube)

The Running Man (Foto: YouTube)

LOS ANGELES - Dalam dunia yang mengalami kehancuran ekonomi, media AS bersekongkol dengan pemerintah untuk menjaga populasi dengan kombinasi kebijakan yang kaku dan tayangan rutin reality show di televisi. Sementara itu, salah satu orang paling berkuasa di dunia adalah pembawa acara sebuah reality show.

Terdengar akrab? Itulah tahun 2017 yang ditunjukkan dalam film thriller aksi The Running Man ketika dirilis 30 tahun lalu seperti dilansir BBC Indonesia.

Fiksi ilmiah (sci-fi) biasanya mengungkapkan kebenaran tersembunyi tentang masyarakat. Jadi, ini mungkin membuat Anda berpikir: apa lagi yang digambarkan visi distopia ini tentang dunia kita sekarang? Jika kita melihat kondisi kita pada 2017, sejauh mana kesamaannya dengan apa yang digambarkan The Running Man tentang politik, media, teknologi pada tahun tersebut?

Disutradarai Paul Michael Glaser, film ini menggambarkan Amerika yang bobrok, tempat para kriminal dipaksa berkompetisi dalam acara permainan yang penuh kekerasan di televisi. Acara paling sukses adalah Running Man, yang di dalamnya narapidana berusaha bertahan hidup selama tiga jam dalam arena luas, dipenuhi para tentara bayaran mirip-gladiator yang disebut "stalkers". Jika menang, mereka akan dibebaskan - tapi tentu saja, tak ada yang pernah menang.

Film ini merupakan adaptasi sebagian dari novela Stephen King berjudul sama, pertama kali diterbitkan atas nama pseudonim Richard Bachman pada 1982. Baik cerita dalam film maupun novela berlatar Amerika di masa depan, namun tak banyak kesamaan lainnya.

Dalam novel King, Ben Richards adalah seorang pria putus asa, didorong kesulitan finansial untuk berpartisipasi dalam kompetisi berbahaya, berharap dapat mengumpulkan cukup uang hadiah untuk mengangkat keluarganya dari kemiskinan sebelum para pemburu membunuhnya.

Dalam adaptasi layar lebar oleh penulis Steven E de Souza, karakter Richards dirombak menjadi seorang pahlawan militer yang dikhianati sistem korup. Sebagai ganti novel yang mengkritik kebrutalan kapitalisme, film Glaser adalah karya satir tentang medianya sendiri - kritik terhadap kekerasan dan sensasionalitas hiburan massa, sambil memberikan para penonton hal yang serupa.

Apakah kita sebiadab yang dibayangkan Souza dan King? Di dunia nyata, pada 2017, jelas ada pasar bagi bentuk hiburan yang mengeksploitasi penderitaan. Meskipun sedikit penonton yang mengakui bahwa mereka ingin melihat kematian di layar kaca, para produser televisi sadar bahwa ada keinginan akan tontonan yang semakin ekstrem - apakah itu menonton orang kelaparan di tengah pulau gurun, atau memakan testikel kangguru di hutan yang jauh.

Begitu pula, tak bisa disangkal bahwa orang selalu memiliki hasrat kuat untuk memastikan bahwa keadilan ditegakkan. Dalam visi Souza dan Glaserzl, sebuah acara permainan bisa sukses—dan mempertahankan status quo politik—dengan memuaskan hasrat populasi yang terjajah akan balas dendam, menggunakan "musuh negara" sebagai pelampiasannya.

Timbulnya kemarahan viral yang biasa terjadi di media sosial mungkin menunjukkan bahwa kita tidak lebih baik. Dari Harambe si gorila sampai Cecil si singa, banyak orang tampaknya menyukai cerita dengan penjahat yang bisa menjadi sasaran kemarahan mereka. Layaknya para penonton Running Man, banyak yang merasa dibenarkan untuk melampiaskan kemarahan mereka, dan mereka larut dalam kesenangan itu.

Teknologi yang digambarkan dalam visi Glaser tentang masa depan tidak terlalu jauh dari kenyataan sekarang, terutama dalam adegan ketika Richards memesan tiket pesawat ke Hawaii menggunakan sesuatu yang tampak seperti prototipe internet. Perabotan di apartemen kakaknya diaktifkan dengan suara, teknologi yang mulai memasuki rumah kita. Dan para tawanan diborgol dengan penanda elektronik — meski versi kita belum dilengkapi alat peledak.

Pada tahun ini juga diperkirakan akan dilakukan uji coba lebih lanjut Hyperloop, teknologi transportasi yang meluncurkan penumpang dengan kecepatan tinggi melalui terowongan. Harapannya, rencana Elon Musk untuk merevolusi cara orang bepergian tidak akan membuat orang takut, seperti yang ditunjukkan Schwarzenegger ketika ia menaiki kendaraan berpendorong roket melewati terowongan menuju arena permainan.

Namun hal paling 'realistis' yang ditunjukkan The Running Man adalah karikatur budaya televisi Amerika: kombinasi glamor, kepopuleran, uang, dan kekejaman yang masih kita temukan sampai hari ini. Meskipun premisnya berbahaya, acara permainan ini sebenarnya pertunjukan norak, yang difilm secara langsung di depan penonton di studio, sesekali disela dengan aksi para penari berkostum ketat dan penampilan dari para stalkers.

Tokoh antagonis dalam film ini adalah Damon Killian (Richard Dawson), pembawa acara The Running Man. Ia tokoh dengan gaya yang ramah dan periang di atas panggung, bertolak belakang dengan perangai aslinya yang picik dan keji. Killian mungkin hanya pembawa acara televisi, namun ia memiliki rating paling tinggi dan hubungan dekat dengan presiden.

Status selebriti adalah kekuatan; dan seakan membenarkan pernyataan ini, dua bintang dalam The Running Man memanfaatkan ketenaran mereka untuk memulai karier sebagai politikus di dunia nyata: Arnold Schwarzenegger dan Jesse Ventura masing-masing menjadi gubernur California dan Minnesota. (Schwarzenegger juga mengambil alih jabatan Donald Trump sebagai pembawa acara The Apprentice, sementara Trump bersiap menjabat di Gedung Putih).

Mungkin analog dalam kehidupan nyata yang paling dekat dengan The Running Man adalah acara gulat profesional. Faktanya, beberapa "stalkers" yang mengenakan kostum adalah pegulat di dunia nyata: Profesor Toru Tanaka dan Erland van Lidth de Jeude tampil bersama Jesse Ventura. Di dunia kita, presiden-terpilih Trump punya hubungan panjang dengan dunia gulat profesional.

Dia telah dua kali menjadi tuan rumah WWE's Wrestlemania, ketika ajang itu diadakan di hotel kasino Trump Plaza, Atlantic City; dan 'berseteru' dengan pemilik WWE, Vince McMahon. Perseteruan tersebut tampak janggal - dan palsu - seperti halnya semua aksi di dalam ring.

The Running Man jelas bukan satu-satunya cerita yang menuduh media memelintir kebenaran dan bersekongkol dengan politikus. Namun patut dicatat bahwa meskipun negara fiktif dalam film tersebut dikuasai pemerintahan totalitarian, revolusi terjadi bukan dengan penggulingan para pejabat di Gedung Capitol melainkan kantor pusat stasiun televisi. Pasukan bersenjata menguasai bangunan dan membuka semua kebohongan yang telah disebarluaskan lewat siaran televisi.

Masalah dengan berita palsu menjadi perhatian utama pada 2016, khususnya selama Pemilu AS, ketika setiap kubu menuduh lawannya memanipulasi media. Kekhawatiran apakah kita bisa memercayai berita adalah tren yang tampaknya akan berlanjut pada 2017. Satu lagi hal yang diprediksi Souza dan King.

Dengan semua bukti ini, sepertinya kita bisa menyebut The Running Man sebagai ramalan akan masyarakat kita 30 tahun kemudian - minus pembunuhan dalam siaran langsung televisi. Meski demikian, King dan Souza tidak berusaha memprediksi masa depan.

Baik buku maupun novelnya mencerminkan kegelisahan yang umum pada masa itu - hasrat akan kekerasan, kewaspadaan akan kemampuan media menjual kebohongan, ketakutan bahwa televisi sebenarnya alat pasifikasi. Kegelisahan ini, mungkin tidak mengherankan, ternyata 'diwariskan' dari satu generasi ke generasi selanjutnya.

The Running Man terasa relevan hari ini, seperti 30 tahun lalu. Mungkin pesan intinya terasa lebih jelas pada masa ketika pembawa acara reality show sebentar lagi dilantik menjadi presiden Amerika Serikat. Ia membuktikan kebenaran pepatah lama: masa depan akan sama saja seperti masa sekarang, hanya berlebihan.

(aln)
BERITA LAINNYA
  • Berita Film
    FOTO: Wow, Tubuh Minion Penuh Tato di Poster Despicable Me 3 FOTO: Wow, Tubuh Minion Penuh Tato di Poster Despicable Me 3
    FOTO: Wow, Tubuh Minion Penuh Tato di Poster Despicable Me 3

    Film Despicable Me 3 resmi merilis poster terbarunya melalui Facebook. Menariknya, Minions yang ditampilkan memiliki tato di tubuhnya.

  • Berita Film
    Keren, Nih Metamorfosis Kostum Spider-Man di Setiap Film Keren, Nih Metamorfosis Kostum Spider-Man di Setiap Film
    Keren, Nih Metamorfosis Kostum Spider-Man di Setiap Film

    Kostum Spider-Man terus mengalami metamorfosis dari tahun ke tahun di setiap filmnya, nih bukti kerennya.

  • Berita Film
    Alasan Anda Wajib Saksikan Fight My Way Alasan Anda Wajib Saksikan Fight My Way
    Alasan Anda Wajib Saksikan Fight My Way

    Para pencinta drama Korea kini siap dimanjakan oleh Fight My Way

  • Berita Film
      Poster Baru The Predator dan Alita: Battle Angel Beredar   Poster Baru The Predator dan Alita: Battle Angel Beredar
    Poster Baru The Predator dan Alita: Battle Angel Beredar

    Poster baru film The Predator dan Alita: Battle Angel terpampang jelas di Licensing Expo, Las Vegas.

  • Berita Film
    3 Hal yang Membuat Ge Pamungkas Tertarik Main di Mars Met Venus 3 Hal yang Membuat Ge Pamungkas Tertarik Main di Mars Met Venus
    3 Hal yang Membuat Ge Pamungkas Tertarik Main di Mars Met Venus

    Setiap aktor memiliki persyaratannya tersendiri sebelum membubuhkan tanda tangan kontrak untuk bermain dalam sebuah film.

  • Berita Film
    Yuk Intip Adegan Musikal di Beauty and the Beast yang Dihapus Yuk Intip Adegan Musikal di Beauty and the Beast yang Dihapus
    Yuk Intip Adegan Musikal di Beauty and the Beast yang Dihapus

    Adegan yang hilang di Beauty and the Beast akhirnya bisa dinikmati penonton setelah versi blu-ray beredar online.

  • Berita Film
    Belajar dari Lukman Sardi, Ge Pamungkas Tak Selalu Ambil Tawaran Film Belajar dari Lukman Sardi, Ge Pamungkas Tak Selalu Ambil Tawaran Film
    Belajar dari Lukman Sardi, Ge Pamungkas Tak Selalu Ambil Tawaran Film

    Ge memetik banyak pelajaran berharga dari seorang Lukman Sardi. Salah satu yang paling diingatnya adalah frekuensi munculnya aktor film.

  • Berita Film
    FOTO: Teuku Rifnu Wikana Ungkap Cerita Menarik di Film Chrisye FOTO: Teuku Rifnu Wikana Ungkap Cerita Menarik di Film Chrisye
    FOTO: Teuku Rifnu Wikana Ungkap Cerita Menarik di Film Chrisye

    Film Chrisye memang baru akan tayang pada bulan September mendatang. Namun, antuasisme para penonton sudah terlihat dari media sosialnya.

  • Berita Film
    Movie Review: Pirates of the Caribbean: Salazar'z Revenge Movie Review: Pirates of the Caribbean: Salazar'z Revenge
    Movie Review: Pirates of the Caribbean: Salazar'z Revenge

    Franchise Pirates of the Caribbean akhirnya merilis seri kelima atau terakhirnya di tahun ini.

More Stories
Live Streaming
Logo
Ruang Anda
SELFIE BARENG CELEB Share foto atau video bersama artis favorit kamu. Upload