okefood   |   okeklasika   |   myzone   |   okezone.tv   |   dahsyat   |   photo   |   suar   |   games  
Getting Time...
line

Eksklusif Mark Sungkar

Sejak Kecil Bercita-cita Jadi Camat Tawangmangu, Solo

Senin, 1 Februari 2010 - 15:02 wib
Tomi Tresnady - Okezone
okezone.com
(foto: Koran SI)

JAKARTA- Siapa tak kenal Mark Sungkar. Aktor sekaligus sutradara ini cukup terkenal, apalagi setelah digosipkan akan bercerai dengan istri ketiganya, Fanny Beauty. Tapi tidak banyak yang tahu, bahwa Mark waktu kecil pernah bercita-cita menjadi Camat Tawangmangu, Solo.

Cita-cita masa kecil ayahanda Shireen Sungkar itu terungkap dalam wawancara ekslusif okezone belum lama ini. Berikut petikan wawancaranya:

Waktu kecil pernah bermimpi menjadi apa?
Sangat sederhana. waktu kecil itu ingin jadi Camat Tawamangu. Bisa dibayangkan, sama solo tuh dekat, jadi Tawangmangu itu gunungnya Solo.

Saya tiap Sabtu-Minggu di sana, tiap libur saya habiskan di hutan, di sawah. Di sana dari kecil memang sudang cinta, makanya saya menangis ketika ke Tawangmangu sudah jadi gedung-gedung bertingkat yang sangat arogan, ini kesalahan fatal dari Pemda yg memberi ijin itu sangat tidak masuk akal. Saya cinta alam, saya dilatih di teater bagaimana bisa mengikuti gerak-gerik pepohonan dan itu menyatu.

Cita-cita jadi camat tidak tercapai karena saya tidak serius. Saya pernah ditawari caleg jadi No 1 tapi saya mundur, KPU sendiri sampai heran-heran. Partainya tidak perlu saya sebutkan, karena saat masuk politik praktis oh ternyata bukan dunia saya.

Kenapa?
Wah kotor sekali. Kalau saya bisa bicara dari hati ke hati kepada masyarakat, bisa saya rangkul untuk masuk mendukung partai kita bukan pakai uang.  Justru orang partainya sendiri yang kotor, maka saya mundur.

Sejak kapan main film?
Umur saya waktu itu masih kecil, umur 11 tahun sudah main teater saya bareng Arifin C. Noer, alhamdulillah dulu masih idealis bukan materi.

Menikmati masuk ke film?
Menyenangkan bsa masuk film banyak sekali yang bisa dipelajari jadi ilmu tidak ada yg mubazir.

Waktu saya kuliah di Belanda, saya bekerja juga di Volvo. Dari nol gak tahu mobil dari montir pelajar tahun 1975 sampai 1980. 4 bulan jadi montir ketiga terus kedua dan satu tahun jadi montir kesatu, nah ilmu itu tidak ada yg rugi.

Apa pengalaman unik Anda saat menjadi montir?
Kalo saya berlibur, saya ajak anak saya (Jamila dari istri pertama). Di jalan pasti ketemu mobil mogok, kita gak minta uang, otak atik beres ada yg ngasih 50 gulden bahkan 100 gulden jadi pulang bawa duit.(uky)