Garuda di Dadaku, Perjuangan Mengejar Cita-Cita

|

Elang Riki Yanuar - Okezone

(foto: garuda di dadaku.com)

Garuda di Dadaku, Perjuangan Mengejar Cita-Cita
KEJARLAH cita-citamu sampai ke setinggi langit. Pepatah ini sangat cocok untuk menggambarkan inti film ini. Film 'Garuda Di Dadaku', sebuah film yang mengangkat dunia sepakbola.

Film ini diadaptasi dari trilogi novel anak karangan Benny Rhamdani yang berjudul Mimpi Sang Garuda, Garuda Di Dadaku, dan Garuda Menantang Matahari. Salman Aristo kemudian mengangkatnya menjadi sebuah skenario film.

Garuda Di Dadaku bercerita tentang seorang anak bernama Bayu (Emir Mahira) yang bercita-cita menjadi pemain sepakbola. Bayu memiliki impian untuk membela tim nasional sepakbola Indonesia.

Keinginan Bayu menjadi pemain sepakbola mendapat tantangan keras dari kakeknya Usman (Ikranagara). Bagi Usman pemain sepakbola identik dengan kemiskinan dan tak punya masa depan seperti yang dialami anaknya.

Ayah Bayu memang seorang pemain sepakbola yang hidupnya kemudian mati sebagai seorang sopir taksi. Usman tak ingin pengalaman Ayah Bayu menular kepada cucu satu-satunya itu.

Untuk itulah Usman bersikeras mendidik cucunya menjadi anak yang multi talenta. Berbagai kegiatan les diwajibkan kepada Bayu seperti musik, melukis dan bahasa Inggris.

Namun bakat sepakbola Bayu yang menurun dari Ayahnya tak dapat dibendung siapapun.  Bayu kerap kali mencuri-curi kesempatan untuk bermain sepakbola bersama teman-temannya. Bahkan Ibu Bayu, Wahyuni (Maudy Koesnaedi) tak dapat membendung keinginan Bayu menjadi pemain sepakbola.

Bayu makin mendapat letupan semangat dari sahabatnya Heri (Aldo Tansani) untuk terus bermain sepakbola. Herilah yang terus meyakinkan Bayu tentang bakat besar yang dimilikinya.

Bakat besar yang dimiliki Bayu ternyata dilirik oleh seorang pelatih sekolah sepakbola bernama Pak Johan (Ari Sihasale). Pak Johan memberi Bayu kesempatan untuk mengikuti seleksi tim sepakbola nasional U-13.

Pintu membela tim nasional makin terbuka lebar. Bayu dan Heri ditemani Bang Dulloh (Ramzy) segera mencari tempat untuk Bayu latihan sepakbola. Karena tak ada lagi tempat, merekapun berlatih disebuah tempat pemakaman. Di sini mereka bertemu dengan Zahra (Marsha Aruan) anak penjaga makam yang kini menjadi sahabat baru mereka.

Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga. Kakek Bayu akhirnya mengetahui kebohongan Bayu yang masih suka bermain sepakbola. Usman mendadak jatuh terkapar saat Bayu sedang berbahagia lolos mengikuti tes seleksi masuk tim nasional.

Melihat tekad keras dari cucunya, hati Usman akhirnya luluh juga. Iapun memperbolehkan Bayu bermain sepakbola dan meraih cita-citanya sebagai pemain sepakbola ternama.

Dengan sepatu sepakbola yang diberikan oleh Heri, Bayu mengikuti seleksi tim nasional U-13. Disaksikan oleh Kakek, Ibu dan semua orang-orang yang mendukungnya, Bayu akhirnya lolos dan menggunakan seragam tim nasional Indonesia dengan lambang garuda di dadanya.

Film yang dirilis secara serentak pada 18 Juni 2009 ini memang bicara tentang banyak hal. Semangat tinggi untuk mencapai cita-cita, kerja keras, kasih sayang dan persahabatan. Berbagai konflik dalam film ini disajikan secara jujur akan membuat kita ikut terharu dan tersentuh. Ditambah kelucuan Bang Duloh yang berhasil mengocok perut penonton.

Film ini juga banyak mengandung sindiran yang menggambarkan dunia sepakbola bahkan dunia olahraga di tanah air. Ayah Bayu mantan pemain sepakbola yang akhirnya menjadi seorang supir taksi, merupakan gambaran seorang pemain sepakbola yang harus tertatih-tatih menopang hari tuanya. Ini tak hanya terjadi dalam dunia sepakbola kita saja.

Kita pernah dikejutkan dengan tewasnya atlet tinju kita Rachman Kili-Kili. Rachman ditemukan tewas gantung diri karena tak kunjung mendapat pekerjaan setelah gantung sarung tinju. Padahal Rachman pernah menjadi juara dunia kelas bulu Federasi Tinju Internasional, IBF. Atlet kita terkadang diabaikan begitu masa jaya mereka berakhir. Padahal mereka pernah membela nama Indonesia di kancah dunia.

Masa depan yang mengkhawatirkan itulah yang membuat profesi atlet kini tak lagi jadi primadona bagi anak-anak muda. Para orang tuapun enggan anaknya menjadi seorang atlet. Kita lihat saja sekolah atlet di Ragunan yang dulu pernah menghasilkan atlet-atlet handal kini dari tahun ke tahun makin sepi peminat.

Pesan moral di film ini tak hanya itu saja. Saat Bayu, Heri dan Bang Duloh mencari tempat berlatih mereka mendapati lahan kosong dengan pagar tinggi terkunci. Sekalipun terdapat lahan terbuka tempat itu ditempati untuk bermabuk-mabukan para preman. Hingga akhirnya mereka memutuskan tempat pemakamanlah yang paling baik untuk berlatih.

Pemilihan tempat pemakaman sebagai tempat berlatih bagi Bayu merupakan gambaran betapa sulitnya mencari lahan bermain untuk anak-anak khususnya bermain sepakbola. Sangat sulit kita jumpai lahan terbuka yang difungsikan sebagai taman bermain bagi anak-anak. Kita lebih sering melihat anak-anak bermain di jalan-jalan atau di mall-mall.

Film ini juga sedang bicara kepada kita semua betapa pentingnya pembinaan usia muda terhadap bakat brilian anak-anak Indonesia. Masalah kurang seriusnya pembinaan atlet muda jugalah yang membuat prestasi olahraga khususnya sepakbola kita mandeg. Sekarang tim sepakbola kita harus pontang-panting menghadapi Malaysia, Singapura yang dulu kita anggap 'anak bawang'. Ini membuktikan regenerasi atlet negara lain berjalan dengan cepat dan dilakukan dengan serius.

Anak-anak di film ini sepertinya sedang meminta perhatian Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI). Hampir tak ada kompetisi reguler bagi pemain-pemain muda dan anak seperti Bayu. Bakat anak-anak seperti Bayu tentunya butuh wadah dan pengalaman berkompetisi secara reguler agar terbiasa bermain.

Anak-anak seperti Bayu memang perlu diperhatikan dengan serius. Dulu kita pernah punya anak berbakat berusia belia bernama Rigan Agachi, yang sempat membela klub PSV Eindhoven, Belanda. Rigan dipulangkan ke Indonesia. Kini namanya nyaris tak terdengar lagi. Sudah saatnyalah PSSI peduli dengan bakat pemain muda potensial.

Meskipun film ini bercerita tentang anak-anak namun pesan terpenting dari anak-anak di film ini adalah, mereka coba mengajarkan kita tentang nasionalisme yang tulus, tanpa embel-embel lain.***

Produksi : SBO Films dan Mizan Productions
Sutradara : Ifa Isfansyah
Pemain : Emir Mahira, Aldo Tansani, Marsha Aruan, Ikranagara, Maudy Koesnaedi, Ramzy, Ari Sihasale. (uky)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    8 Bulan Vakum, Loco Akhirnya Kembali