Knowing, Bisikan Kiamat

Devy Lubis | Rabu, 15 April 2009 - 10:34 wib

BAGAIMANA rasanya bila Anda bisa melihat apa yang tak terekam di mata orang lain, mendengar yang tidak didengar orang lain dan merasakan apa yang tidak dirasakan orang lain? Anda merasa sesuatu akan terjadi, tapi Anda tidak tahu itu apa. Apakah itu sixth sense atau halusinasi belaka?

Gadis sekolah dasar di Massachusetts, pada tahun 1959, bernama Lucinda Embry, buta tentang masa depan. Namun dialah kunci prediksi kehancuran bumi alias kiamat.

Lucinda dikenal sebagai murid yang misterius, tampangnya menyedihkan, muram dan tak banyak bicara. Sosok terasing di kelas. Namun, dia punya rahasia yang membuat seluruh hidupnya penuh tanda tanya.

Suatu hari, sekolah Lucinda mengadakan acara mengubur sebuah kapsul waktu. Kapsul yang akan dibuka kembali 50 tahun kemudian itu penuh dengan amplop. Dalam amplop-amplop itu berisi gambar anak-anak era 50-an tentang masa depan.

Anehnya, bukan gambar yang dicoretkan Lucinda dalam kertas, melainkan angka acak. Dia menuliskan angka-angka dengan sangat cepat, sampai-sampai gurunya, Ms Taylor, merampas kertas itu. Jangan salah! Bukannya Lucinda maniak angka, dia hanya menulis menuruti bisikan-bisikan di telinganya yang tak terdengar orang lain.

Saat penguburan kapsul waktu, Lucinda tiba-tiba lenyap. Dia menghilang. Semua orang mencarinya. Petugas sekolah pun dikerahkan. Ms Taylor akhirnya menemukan Lucinda. Gadis kecil itu berada di lemari dalam kondisi mengenaskan, jemarinya berlumuran darah.

Tahun 2009, saatnya kapsul waktu diangkat dari kubur. Semua murid saling berebut amplop. Caleb, salah satu murid, mendapat amplop milik Lucinda. Awalnya, ayah Caleb, John Koestler menilai amplop itu hanya keisengan anak-anak masa lalu. Namun, Caleb coba meyakinkan, amplop itu mungkin saja berguna. Penasaran, John yang berprofesi sebagai seorang profesor itu kemudian menelaah setiap digit acak yang tertera dalam kertas tua tersebut.

Mengandalkan googling, John sadar angka-angka itu bukan angka biasa. Angka-angka itu tepat merujuk pada sejumlah tragedi yang memakan korban luar biasa, termasuk peristiwa naas yang merenggut istrinya, ibunda Caleb, hingga membuat John tidak percaya Tuhan.

Setelah hari itu, kehidupan ayah-anak tersebut berubah. Tinggal tiga musibah yang belum terjadi pada 2009. Bagaimana John mengatasi keadaan ini? Sementara Caleb yang tuna rungu sejak lahir harus mendengar bisikan-bisikan, sebagaimana yang didengar Lucinda. John khawatir sekaligus ketakutan, Caleb bakal jadi korban angka berikutnya. Tapi dia tidak mungkin melepaskan diri dari takdir ini. Setelah berjuang sekuat tenaga, menelusuri musibah serta menyusuri kembali jejak Lucinda Embry, John mendapatkan jawaban.

Knowing adalah sebuah novel karya Ryne Douglas Pearson, yang kemudian diterjemahkan dalam bentuk film di bawah arahan sutradara Alex Proyas. Film yang dirilis kali pertama pada 20 Maret 2009, ini akrab dengan nuansa thriller yang cukup suram. Boleh dibilang, hampir semua penokohan dalam cerita menguras emosi dan kegelisahan.

Inti dari pesan yang ingin disampaikan penulis agaknya tidak jauh beda dari film The Eye. Namun, film yang dibintangi Nicolas Cage ini unggul di tingkat kedalaman kisah. Betapa tidak, Pearson berani mengangkat sisi spiritualitas yang selama ini identik dengan dunia Timur. Dia menggabungkannya dengan derajat ilmiah, teknologi, dan pola pikir realistis ala dunia Barat. Tapi, Knowing bukanlah film hantu.

Pearson sukses menyelundupkan ide sekaligus mendekonstruksi kebenaran tentang sejarah penciptaan alam semesta. Estetika berpikir penulis seakan membongkar paksa pemahaman individu terhadap realita dan kebenaran sejarah peradaban. Bahwa semua yang terjadi di dunia sudah tertulis, tercatat rapi: yang lahir, yang mati, yang datang dan yang pergi. Dan hanya 'yang terpilih'-lah yang akan menciptakan generasi baru setelah memakan buah Khuldi.

Anda boleh percaya, boleh pula tidak. Karena ini cuma film, hanya cerita: rekonstruksi dari konstruksi atas realitas, yang bisa jadi Anda yakini, bisa pula tidak.
 
Pemain:
Nicholas Cage
Rose Byrne
Chandler Canterbury
Lara Robinson
Ben Mendelsohn

Sutradara:
Alex Proyas

Penulis:
Alex Proyas. ()
Berita Rekomendasi
BERITA LAINNYA
  • Review Film
    Seputih Cinta Melati Temani Libur Lebaran Seputih Cinta Melati Temani Libur Lebaran
    Seputih Cinta Melati Temani Libur Lebaran

    Libur lebaran kali ini akan terasa spesial dengan hadirnya film anak dan keluarga berjudul Seputih Cinta Melati garapan Alenia Pictures. Film religi ini sudah mulai beradar sejak 24 Juli 2014 lalu di seluruh bioskop Tanah Air.

  • Review Film
    Kisah Cinta Sejati si Putri Tidur dalam Maleficent Kisah Cinta Sejati si Putri Tidur dalam Maleficent
    Kisah Cinta Sejati si Putri Tidur dalam Maleficent

    Di balik dongeng Sleeping Beauty (Putri Tidur), ternyata ada sosok Maleficent. Si ratu nan jahat ini menjadi kisah cinta sejati Putri Tidur.

  • Review Film
    Mencegah Manusia Tak Punah dalam Philosophers Mencegah Manusia Tak Punah dalam Philosophers
    Mencegah Manusia Tak Punah dalam Philosophers

    Berlatar belakang keindahan alam Indonesia, The Philosophers film yang bercerita tentang seorang guru filsafat yang mengajar di sebuah sekolah internasional di Jakarta.

  • Review Film
    Ketika Tuhan Jatuh Cinta, Drama Cinta Penuh Pesan Religi Ketika Tuhan Jatuh Cinta, Drama Cinta Penuh Pesan Religi
    Ketika Tuhan Jatuh Cinta, Drama Cinta Penuh Pesan Religi

    Ketika Tuhan Jatuh Cinta, film drama karya Studio Sembilan dan Leica Production ini menyelipkan nilai-nilai religi dalam setiap pesan yang disampaikan.

  • Review Film
    After School Horror, 99 Persen Horor After School Horror, 99 Persen Horor
    After School Horror, 99 Persen Horor

    Di tengah genre action yang sedang booming, rumah produksi My Dream Pictures meluncurkan film bergenre horor kisah pertualangan anak SMA dalam After School Horror.

  • Review Film
    Karate Kid Berlatar Tsunami dalam Sang Pemberani Karate Kid Berlatar Tsunami dalam Sang Pemberani
    Karate Kid Berlatar Tsunami dalam Sang Pemberani

    Satu lagu film Indonesia yang siap menebar inspirasi, ialah Sang Pemberani. Film keluarga yang diangkat dari kisah nyata bocah karateka korban tsunami Aceh ini tayang perdana 22 Mei.

  • Review Film
    Merasakan Bangkitnya Kekaisaran Xerxes di 300: Rise of Empire Merasakan Bangkitnya Kekaisaran Xerxes di 300: Rise of Empire
    Merasakan Bangkitnya Kekaisaran Xerxes di 300: Rise of Empire

    300 Rise of an Empire, sekuel yang dibuat dengan plot berada dalam kejadian sama di 300 (2006), rasanya tidak salah merajai box office Amerika Serikat, pekan ini.

  • Review Film
    Perjalanan Mencari Jejak Islam di Tanah Eropa Perjalanan Mencari Jejak Islam di Tanah Eropa
    Perjalanan Mencari Jejak Islam di Tanah Eropa

    Hanum Salsabiela Rais (Acha Septriasa) dan Rangga Almahendra (Abimana Aryasatya) merupakan seorang suami istri yang tinggal di Vienna, Austria. Hanum meninggalkan Indonesia untuk menemani sang suami untuk kuliah di Vienna University of Economic and Business.

More Stories
Live Streaming
Logo
Ruang Anda
SELFIE BARENG CELEB Share foto atau video bersama artis favorit kamu. Upload