Jero Wacik Menilai Kondisi Film Indonesia Membaik
Minggu, 30 Maret 2008 - 17:17 wib
Insaf Albert Tarigan - Okezone
JAKARTA - Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik menilai, kondisi perfilman Indonesia semakin baik. Hal ini dibuktikan, dengan naiknya produksi film Indonesia setiap tahun.
Tercatat, sejak 1992 hingga 2004 perfilman nasional pernah "mati suri". Terhitung, hanya ada 4 sampai 5 film yang diproduksi per tahun.
Namun, sejak menteri kebudayaan mencanangkan bangkitnya film Indonesia, jumlah itu bisa ditingkatkan dan pada 2007 lalu. Tercatat, ada 57 film Indonesia yang diproduksi.
"Target kami pada 2008 ada 90 film. Sampai bulan ini saja, sudah mencapai 20 film," ujar Jero Wacik yang ditemui di Gedung Departemen Pariwisata dan Kebudayaan, Jalan Medan Merdeka Barat No. 17, Jakarta, Minggu (30/3/2008).
Jero Wacik juga sempat menyinggung dan mengatakan, film Indonesia bisa dibangun dengan etika budaya dan mengandung nilai-nilai nasionalisme. Terbukti, dengan kesuksesan fim Ayat-Ayat Cinta, Naga Bonar Jadi 2 dan Denias, kita bisa berkembang tanpa ribut dengan lembaga sensor film.
Sementara itu, menanggapi minimnya film-film anak saat ini, menteri mengimbau kepada sineas untuk memproduksi film anak.
"Inikan ada permintaan dari anak-anak melalui aksi simpatik ini. Artinya pasar sudah meminta dan lagi kalau anak-anak menonton film mereka tidak mungkin sendirian tapi pasti dengan keluarganya. Bagi produser agar segera membuat film untuk anak." Ujarnya menghimbau.
Sejak siang tadi, sejumlah artis, masyarakat dan para produser film melakukan aksi di depan gedung Departemen Pariwisata dan Kebudayaan. Mereka mengaku prihatin, dengan minimnya film anak-anak saat ini.
Terkait aksi tersebut, Dedy Mizwar angkat bicara. Menurutnya, membuat film anak-anak itu lebih sulit dibandingkan film lainnya.
"Film anak-anak, bukan berarti film yang dimainkan anak. Tapi, film yang mengangkat mengenai problem anak. Banyak film yang ada tapi masalahnya masalah dewasa. Memang tidak mudah, kendala utamanya yaitu kreatifitas. Dan satu lagi yang paling penting, kalau kita mendesak ke televisi problemnya adalah pasar. Kalau tidak laku ya dihentikan," jelas aktor peraih IMA 2008 sebagai aktor terbaik itu.
Dedy menambahkan, masalah undang-undang yang belum jelas dan sudah tidak relevan dalam perkembagan yang ada juga berpengaruh terhadap perfilman nasional saat ini.
"Oleh sebab itu, kami meminta wakil di DPR untuk menyempurnakan undang-undang yang ada, tentunya dengan masukan dari masyarakat pencinta film Indonesia," tandasnya. (lsi)
- Festival Film Solo 2012 Buka Kompetisi Film Fiksi Pendek
- 3 Film Hollywood Akan Syuting di Indonesia
- Pemerintah Janji Bantu Film Indonesia Ikut Festival Internasional
- "SBY Nonton di Bioskop Akan Pacu Semangat Sutradara"
- Presiden SBY Puji Film '5 Elang'
- Pemerintah Akan Subsidi Film Bertema Pahlawan
- Paranormal Pimpin Parfi Gantikan Yenny Rachman
- Peserta Kongres Parfi Lempar Uang Suap
- Gatot Brajamusti Ditolak Jadi Ketua Parfi
- Konflik antar Kandidat, Kongres Parfi Terancam Batal